30/5/04
Pemarah bukan sifatku
Egois bukan tabiatku
Menuntut aku tak mau
Mendikte bagiku terlalu
Pintaku cukup sekali
Kau langgarpun maaf selalu kuberi
Berfikirlah dengan waktumu
Bila sudah terbentur
Kaupun akan terpental dengan sendirinya
Bukan puitis bermanis rasa, bukan pujangga bersyair ria Ungkapan tangis dalam kata, ungkapan asa dalam duka
30/5/04
Pemarah bukan sifatku
Egois bukan tabiatku
Menuntut aku tak mau
Mendikte bagiku terlalu
Pintaku cukup sekali
Kau langgarpun maaf selalu kuberi
Berfikirlah dengan waktumu
Bila sudah terbentur
Kaupun akan terpental dengan sendirinya
29/05/04
Mungkin aku terlalu pandai bermain kata
Tapi percayalah itu semua bukan sandiwara
Mungkin puisiku sepanjang pesisir
Tapi yakinlah sedikitpun tidak didramatisir
Cintaku tak palsu
Bukan pula berdasarkan nafsu
Cintaku suci
Bukan sekedar imitasi
27/6/04
Tak ada kata mendua
Dalam kamus percintaan kita
Entahlah dia yang keberapa
Yang ingin meracuni hati tuk menjadi pecundang cinta
Sesak dibuatnya
Meminta menyembah menghiba
Tak mau mengerti kalau ku tlah memiliki cinta
Menggoda merayu
Dengan kata cinta yang memuakkan
Dengan dalih rela meski mereka yang kedua
Membuatku harus berpegang erat
Pada komitmen cinta kita
“siapa selingkuh dibunuh” yang intinya setia
Membuatku lelah
Berlari seperti dikejar orang gila
Tuk jauhi mereka
Dengan perinsip
Aku haru menjadi wanita setia
23/6/04
Bahagiakah kamu jadi pacarku
Jika kesabaran terkuras hanya untuk ku
Bahagiakah kamu jadi pacarku
Jika ketabahan harus terperas juga karena aku
Sudah cukup pengorbananmu
Sudah cukup ku menambah lukamu
Ah….sayang
Aku tak ingin kau menderita mencintai aku
23/6/04
Hari yang kutunggu setelah dua pekan berlalu
Tak teraling tangis dan asa meluap menyatu
Kau simak tiap ucapku
Kau genggam erat kedua tanganku
Kau sandarkan aku diteduhmu
Kau dekap aku didamainya hatimu
Bening nasihatmu mengalir dijiwaku
Membuatku tersadar ini bukan akhir sgalanya
Pengertianmu mampu menopang hatiku yang kian rapuh
Sayang
Harus dengan apa ku balas semua cintamu
22/6/04
Harus dengan kata apa
Ku mesti membahsakan cintaku
Harus dengan ucapan yang mana lagi
Ku mesti melisankan sayangku
Di hari jadimu ini
Justru aku tak mampu bermain kata
Biarlah terlalu jujur dan apaadanya
Aku hanya punya sekeping doa
Semoga cinta kita utuh untuk selamanya
21/6/04
Hidup teruji
Hati, jiwa, raga tersemat mati
Juni pekat
Niat nadi diakhiri
Nafas dipenghujung jantung
Wajahmu tersenyum menggantung
Kau alasan hidup tersambung